[1] Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
[2] Segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam
[3] Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
[4] Yang Menguasai Hari Pembalasan
[5] Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan
[6] Tunjukilah kami jalan yang lurus
[7] Yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka,
bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orang
yang sesat
Pelajaran:
Di dalam surat ini, Allah memperkenalkan diri-Nya kepada
hamba-hamba-Nya. Allah Maha Pengasih, yang kasih sayangnya amat luas,
meliputi siapa saja. Dan Allah Maha Penyayang, yang menyayangi siapa pun
yang Dia Kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Allah maha terpuji karena
keagungan rububiyah-Nya; Allah sebagai satu-satunya pencipta, penguasa,
dan pengatur alam semesta, tiada sekutu bagi-Nya.
Allah yang mentarbiyah (memelihara) manusia dengan tarbiyah umum
maupun yang khusus. Tarbiyah umum mencakup segala perkara yang menunjang
kehidupan umat manusia di atas muka bumi ini, diberikan kepada siapa
saja di antara hamba-hamba-Nya. Adapun tarbiyah khusus berupa bimbingan
dan petunjuk menggapai kebaikan dunia dan akherat, yang diberikan kepada
hamba-hamba yang beriman dan tunduk kepada-Nya.
Maka Allah berhak untuk mendapatkan sanjungan yang diiringi dengan
kecintaan dan pengagungan. Inilah pujian seorang hamba kepada Rabbnya,
dia memuji-Nya dengan penuh rasa cinta dan pengagungan kepada-Nya.
Pujian yang tertuju kepada Dzat yang menciptakan dirinya dan melimpahkan
segala macam nikmat lahir dan batin kepada segenap makhluk-Nya.
Allah adalah penguasa yang memiliki sifat kasih sayang, bukan
penguasa yang kejam dan tidak juga mengabaikan keadilan. Dengan
kemurahan dari-Nya, Allah berikan balasan berlipat ganda bagi
orang-orang yang beriman dan beramal salih serta mengampuni dosa-dosa
mereka, yang pada akhirnya mengantarkan mereka ke dalam surga, yang
kenikmatannya belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah terdengar
oleh telinga, dan belum pernah terbersit dalam hati manusia. Namun,
Allah juga maha adil sehingga tidak membiarkan orang-orang yang durhaka
dan kufur kepada-Nya tanpa hukuman yang setimpal dengan kezaliman
mereka. Maka Allah tetap terpuji bagaimana pun keadaan dan balasan yang
diterima oleh seorang hamba. Kalaulah mereka celaka, hal itu bukan
karena Allah menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang telah
menganiaya diri mereka sendiri.
Sehingga, pada hari kiamat kelak, Allah akan tampakkan kekuasaan-Nya
yang mutlak atas seluruh makhluk-Nya. Pada hari itu tiada lagi raja dan
penguasa yang bisa tampil menekan dan memaksa manusia dengan kebengisan
dan kekejamannya. Pada hari itu Allah lah yang berkuasa, yang akan
memberikan balasan atas amal-amal manusia selama hidup di dunia. Apabila
mengingat kejadian pada hari itu, niscaya seorang muslim akan
bersiap-siap menyambut kedatangannya dengan bekal takwa. Karena hidup di
dunia adalah perjalanan yang akan mengantarkan manusia menuju surga
atau neraka. Sementara surga Allah sediakan bagi hamba-hamba-Nya yang
bertakwa.
Barangsiapa yang ingin selamat di akherat maka dia wajib menempuh
sebab-sebabnya, yaitu dengan bertakwa kepada-Nya. Ketakwaan yang
ditegakkan di atas nilai-nilai tauhid. Yaitu penghambaan secara total
kepada Rabb alam semesta dengan menujukan segala bentuk ibadah
kepada-Nya, dan tidak memalingkan ibadah sekecil apapun kepada
selain-Nya. Inilah tujuan diciptakan jin dan manusia, agar mereka tunduk
beribadah kepada-Nya, dengan penuh rasa cinta, harap dan takut
kepada-Nya.
Kepada Allah lah seorang hamba mengharap bantuan dan pertolongan
karena di tangan-Nya lah kerajaan langit dan bumi dan Dia Maha kuasa
atas segala sesuatu. Allah yang telah menciptakan kematian dan kehidupan
guna menguji manusia siapakah di antara mereka yang terbaik amalnya;
yaitu orang-orang yang ikhlas dan setia dengan ajaran Nabi-Nya. Inilah
ruh agama Islam, mempersembahkan segala bentuk ibadah dan ketaatan untuk
Allah semata, bukan untuk selain-Nya. Sehingga seorang hamba tidak
perlu mencari-cari pujian dan kedudukan di mata manusia dengan
ibadahnya. Dan juga seorang hamba akan senantiasa menyadari bahwa
kekuatan yang dia dapatkan untuk melakukan itu semua semata-mata berasal
dari anugerah Allah ta’ala kepada dirinya, sehingga dia pun
tidak merasa ujub dengan amalnya. Maka tidak ada lagi tempat
menggantungkan hati selain kepada-Nya. Hanya Allah yang pantas untuk
disembah dan dipuja-puja. Adapun selain Allah adalah makhluk yang
senantiasa membutuhkan-Nya. Sementara Allah sama sekali tidak
membutuhkan apa-apa dari seluruh makhluk-Nya.
Oleh sebab itu, seorang hamba yang menginginkan keselamatan dan
kebahagiaan semestinya senantiasa memohon petunjuk dan bimbingan
kepada-Nya. Petunjuk berupa ilmu yang bermanfaat dan amal yang salih.
Bimbingan mengenal agama Islam dan mendalami ajaran-ajarannya. Sehingga
seorang hamba akan bisa mengenali kebenaran dan melaksanakannya.
Petunjuk itulah yang lebih dia butuhkan daripada sekedar makanan dan
minuman, air maupun udara. Karena tanpa petunjuk ini seorang hamba akan
kebingungan dalam menjalani hidupnya. Hidup dalam ketidakpastian, hidup
tanpa tujuan, hidup bagaikan binatang, hidup yang penuh dengan kegelapan
dan ketidakjelasan.
Karena hidup di dunia membutuhkan kesabaran; sabar dalam menjalankan
ibadah, sabar dalam menghadapi musibah, dan sabar dalam menghindarkan
diri dari maksiat. Kalau tanpa petunjuk dan bimbingan Allah niscaya
manusia akan celaka. Segala puji bagi Allah yang telah membimbing kita
beragama Islam dan melunakkan hati kita untuk melaksanakan
ajaran-ajarannya dengan penuh kepasrahan dan tanpa penolakan. Hanya
dengan meniti jalan yang lurus inilah manusia akan selamat dunia dan
akherat. Dengan senantiasa mentauhidkan-Nya dan patuh kepada rasul-Nya.
Siapa saja yang taat kepada Allah dan rasul-Nya niscaya dia akan
mendapatkan keberuntungan yang amat besar di sisi-Nya. Jalan yang lurus
itu adalah jalan para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang salih.
Jalan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum.
Inilah jalan yang akan mengantarkan menuju surga-Nya. Bukan jalan
orang-orang yang dimurkai dari kalangan Yahudi dan semacamnya. Bukan
pula jalan orang-orang yang sesat dari kalangan Nasrani dan semacamnya.
Jalan yang lurus adalah jalan Islam. Jalan yang ditempuh oleh
orang-orang yang diberi kenikmatan hidayah dari Allah karena ketulusan
hati mereka dalam mengabdi kepada-Nya dan mencari kebenaran. Allah sudah
terangkan jalan itu kepada manusia, akan tetapi tidak semua manusia mau
mengikutinya. Allah utus para rasul untuk mengajak mereka menyembah-Nya
dan menjauhi thaghut (sesembahan selain-Nya). Akan tetapi sebagian
mereka enggan, maka pantaslah jika orang-orang seperti mereka ditetapkan
tenggelam dalam kesesatan. Tatkala hati mereka berpaling maka Allah pun
simpangkan hati mereka. Mereka lebih suka dengan kesesatan daripada
mengikuti bimbingan ar-Rahman. Hati mereka keras membatu, atau bahkan
lebih keras daripada itu. Semoga Allah melindungi kita dari kesesatan
dan penyimpangan, dengan karunia dan kemurahan dari-Nya. Sesungguhnya
Allah maha kuasa lagi mampu untuk melakukannya.
Subhanallah... Semoga penulisnya selalu di rahmati Allah SWT
BalasHapusamiin,, YRA
BalasHapus